Kamis, 18 Mei 2017
Selasa, 16 Mei 2017
Dinas Pendidikan Tulang Bawang Cairkan Tunjangan Sertifikasi Guru Triwulan I
Dinas Pendidikan Tulang Bawang Cairkan Tunjangan Sertifikasi Guru Triwulan I klik disini
Sabtu, 13 Mei 2017
Jumat, 12 Mei 2017
Kamis, 11 Mei 2017
UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI OPTIMALISASI SUPERVISI AKADEMIK DAN PENINGKATAN KOMPETENSI CALON KEPALA SEKOLAH DALAM PEMANFAATAN SARANA PRASARANA SEKOLAH DI SDN 1 SETIATAMA DAN SDN 1 MEKAR JAYA
UPAYA
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN
MELALUI OPTIMALISASI SUPERVISI AKADEMIK DAN
PENINGKATAN KOMPETENSI
CALON KEPALA SEKOLAH DALAM PEMANFAATAN SARANA PRASARANA SEKOLAH DI SDN 1 SETIATAMA DAN SDN 1 MEKAR JAYA
ABSTRAK
laporan akhir kegiatan On The Job Learning (OJL) pada
Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah
BAB
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)
Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah dijadikan acuan
bagi pengembangan kompetensi kepala sekolah/madrasah. Dengan
standar tersebut diharapkan seluruh kepala sekolah/madrasahdi Indonesia memiliki kompetensi yang layak sebagai kepala sekolah/madrasah. Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor
28 tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai kepala dijelaskan bahwa seorang
guru yang telah dinyatakan lulus seleksi calon kepala sekolah diharuskan
mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai kegiatan pemberian pengalaman
pembelajaran teoretik maupun praktik yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan pada dimensi-dimensi kompetensi
kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.
Kemampuan
kepala sekolah dalam mengarahkan, memberdayakan, menggerakkan, dan mengembangkan
sumber daya sekolah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah sangat
bergantung kepada kompetensi akademik dan manajerial seorang
kepala sekolah.
Kegiatan
tatap muka (in servis-1) merupakan modal awal untuk menjalani
praktek lapangan on the job learning (OJL) selama kurang lebih
3 bulan. dengan OJL peserta
diklat dapat mempraktekkan bagaimana membuat rencana
tindak kepemimpinan, melakukan kajian pengelolaan kurikulum sekolah,
RKAS/RKJM, pengelolaan keuangan, produksi dan jasa, pembinaan tenaga
administrasi sekolah, pengelolaan peserta didik, sarana dan prasarana,
pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, pemanfaatan TIK, monitoring dan
evaluasi serta program supervisi akademik
dan manajerial.
B.
Tujuan
Kegiatan On The Job Learning bertujuan untuk
mempraktekkan rencana tindakan kepemimpinan, mensupervisi guru, menyusun
perangkat pembelajaran, mengkaji pengelolaan berbagai aspek akademik dan manajerial,
serta peningkatan kompetensi calon kepala sekolah berdasarkan hasil AKPK
C.
Kompetensi Sasaran
Hasil yang diharapkan dalam kegiatan OJL ini adalah
:
1. Calon
kepala sekolah dapat melaksanakan Rencana Tindak Kepemipinan.
2. Calon
kepala sekolah dapat melaksanakan Observasi dan Supervisi Pembelajaran guru
yunior.
3. Calon
kepala sekolah dapat membuat perangkat pembelajaran.
4. Calon
kepala sekolah dapat melaksanakan :
a. Kajian RKS
b. Kajian Pengelolaan
Kurikulum
c. Kajian
Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
d. Kajian Pengelolaan
Sarana Prasarana Sekolah
e. Kajian
Pengelolaan Peserta Didik
f. Kajian
Pengelolaan Keuangan Sekolah
g. Kajian
Pembinaan Tenaga Administrasi Sekolah
h. Kajian
Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran
i. Kajian Sistem
Monitoring dan Evaluasi
5. Calon
kepala sekolah dapat meningkatkan kompetensi berdasarkan AKPK
BAB II.
KONDISI NYATA SEKOLAH MAGANG
A.
Profil SDN
1 Setiatama
SDN 1 Setiatama berdiri pada
tahun1998 saat itu hanya sampai kelas 5 saja kemudian tahun 2000 sudah memiliki
kelas 6 dan sudah bisa melaksanakan Ujian Nasional.
1. Visi
Visi
SDN
1 Setiatama adalah
: “MENUJU SEKOLAH
YANG UNGGUL, BERMORAL, TAQWA CERDAS DAN BERFRESTASI SEHINGGA BERGUNA DI
TENGAH-TENGAH MASYARAKAT.”.
2. Misi
Misi
sekolah adalah :
a) Melaksanakan
kegiatan belajar mengajar yang efektif
b) Menumbuhkan semangat
keunggulan sekolah dalam bekerja
c) Meningkatkan
motivasi berfrestasi bagi siswa atas potensi yang ada pada dirinya
d) Menumbuhkan
penghayatan terhadap ajaran agama yang di anut oleh siswa.
e) Menumbuhkan
rasa hormat pada guru dan orang tua.
3. Status
Akreditasi
Pada tahun 2008 SDN 1 Setiatama menadapatkan nilai akreditasi
“C” dari Badan Akreditasi
Nasional.
4. Kondisi
Sosial Ekonomi
SDN
1 Setiatama berlokasi
di Kampung Setiatama, Kecamatan Gedung
Aji Baru Kabupaten Tulang
Bawang. Sebagian besar orang
tua siswa bermata pencaharian sebagai
petani.
Gambar 1. Papan nama dan pintu
Gerbang SDN 1 Setiatama
B.
Profil SDN
1 Mekar Jaya
SDN 1 Mekar jaya cukup
berfrestasi karena sudah cukup banyak piala yang di peroleh salah satunya
adalah piala tropi lomba gerak jalan HUT RI.
1. Visi
Menjadikan
Sekolah Terpercaya di masyarakat untuk mencerdaskan bangsa dalam rangka Wajib
Belajar 9 Tahun.
a. Unggul
dalam Pembinaan Keagamaan
b. Unggul
dalam Peningkatan Mutu
c. Unggul
dalam Penguasaan Teknologi
d.
Penerapan Kedisiplinan dan Pembinaan Seni Budaya
2.
Misi
a. Mewujudkan
penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama untuk menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME.
b. Melaksanakan
pendekatan Contectual Theaching and Learning dengan strategi PAKEM untuk
mencapai suatu prestasi yang maksimal.
c. Melaksanakan
tambahan jam belajar bagi siswa kelas IV, V, dan VI.
d. Melaksanakan
kegiatan pendidikan agama, pramuka, olahraga dan seni budaya.
e. Memberdayakan
perpustakaan sekolah.
3.
Tujuan
Setelah siswa lulus dari SD Negeri 1 Mekar Jaya, siswa :
a. Dapat
membaca dan menulis Al-qur’an dan mendirikan Shalat.
b. Pada
akhir tahun yang ke-6 memperoleh nilai hasil ujian yang baik.
c. Mampu
menguasai pengetahuan dasar komputer (MS. Word dan MS. Exel).
d. Berbudi
pekerti dan berakhlak
mulia.
e. Cakap
dalam kegiatan ektrakulikuler, pramuka, olahraga dan seni budaya.
4.
Status Akreditasi
SDN
1 Mekar Jaya
merupakan Sekolah di Kabupaten Tulang Bawang yang Nilai
Akreditasi Sekolah Tahun
2009 dari Badan Akreditasi Nasional adalah “B”.
5.
Kondisi Sosial Ekonomi
SDN
1 Mekar Jaya
merupakan Sekolah yang beralamat di Mekar Jaya, Kabupaten Tulang
Bawang. Orang tua
siswa bekerja sebagai pegawai
negeri, wiraswasta, pedagang kecil, buruh pabrik , dan petani.
Gambar
2. Papan Nama SDN 1 Mekar Jaya
C. Permasalahan yang ditemukan di
lapangan
1.
SDN 1 Setiatama
Selama ini belum melaksanakan Evaluasi Diri Sekolah (EDS), akantetapi
secara garis besar permasalahan yang ditemukan di lapangan yaitu masih
kurangnya guru yang membuat program pembelajaran yang lengkap sistematis dan
sesuai dengan aturan. Jika mengadakan kegiatan Pembelajaran masih ada guru yang
belum menggunakan RPP dan media pembelajaran serta alat peraga.. Seperti yang
telah disebutkan di atas SDN 1 Setiatama selama ini belum melakukan kegiatan EDS. Oleh karena itu sebagai
kontribusi saya selama kegiatan OJL, saya mengusulkan untuk melakukan kegiatan
EDS karena hasil EDS merupakan dasar yang valid untuk menyusun berbagai program
sekolah
Alhamdulillah mulai tahun ini SDN 1 Setiatama mulai melakukan kegiatan EDS dengan hasil sebagaimana tabel berikut:
Tabel Hasil EDS 2013 SDN 1 Setiatama
Tabel 1. EDS SDN 1 Setiatama 2013
Dari
tabel diatas, skor ≥ 2 hanya pada Standar Pengelolaan. Dengan kata lain, hanya
Standar Pengelolaan (rating 2,00) saja yang sedikit di atas SNP, 7 standar yang
lain belum. Bahkan pada analisis tersebut tergambar bahwa Standar Pendidik dan
tenaga Kependidikan memiliki rating terendah (1,00). Sebagaimana hasil Analisis
Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) dan EDS sekolah, maka dalam
pelaksanaan On The Job Learning(OJL) Dst, penulis fokus kepada upaya
peningkatan kompetensi Akademik. SDN 1 Setiatama Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah Bp. Poniman, S.Pd.SD
permasalahan yang sering muncul di SDN 1 Setiatama tenaga pendidik masih banyak yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan
tidak sesuai standar (belum S1) tentu saja menjadi pekerjaan rumah yang harus
mendapat penanganan serius di masa-masa yang akan datang. Begitu juga dengan
jumlah fasilitas yang termasuk kurang tentunya perlu di tambah.
Tabel 2. Data Guru SDN 1 Setiatama Tahun 2013
2.
SDN 1 Mekar Jaya
Selama ini belum melaksanakan Evaluasi Diri Sekolah (EDS), akantetapi
secara garis besar permasalahan yang ditemukan di lapangan yaitu masih
kurangnya Ruang Kelas sesuai dengan SNP.karena hanya terdiri 5 ruang kelas, kelas
1 dan kelas 2 di satu ruang dan kelas 2 pulang bersama-sama kelas lain
sedangkan berdasarkan kurikulum KTSP SDN 1 Mekar Jaya tertera kelas 1 32
jam/minggu dan kelas 2 tertera 33 jam/minggu sehingga tidak mungkin jam
tersebut terpenuhi.
Seperti yang telah disebutkan di atas SDN 1 Mekar Jaya selama ini belum melakukan kegiatan EDS. Oleh karena itu sebagai
kontribusi saya selama kegiatan OJL, saya mengusulkan untuk melakukan kegiatan
EDS karena hasil EDS merupakan dasar yang valid untuk menyusun berbagai program
sekolah
Alhamdulillah mulai tahun ini SDN 1 Mekar Jaya mulai melakukan kegiatan EDS dengan hasil sebagaimana tabel berikut:
Tabel 3.
EDS SDN 1 Mekar jaya tahun 2013
Dari
tabel diatas, skor ≥ 2 hanya 3 Standar . Dengan kata lain, hanya 3 Standar di
atas SNP, 5 standar yang lain belum. Bahkan pada analisis tersebut tergambar
bahwa Standar Sarana dan Prasarana memiliki rating terendah (1,00). Sebagaimana
hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) dan EDS sekolah, maka
dalam pelaksanaan On The Job Learning(OJL) Dst, penulis
fokus kepada upaya peningkatan kompetensi Akademik. SDN 1 Mekar Jaya Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah Bp. Warsito, S.Pd.
permasalahan yang sering muncul di SDN 1 Mekar Jaya Masih banyak guru yang belum membuat perangkat pembelajaran dan
menggunakan alat peraga dan media pembelajaran, tentu saja menjadi pekerjaan
rumah yang harus mendapat penanganan serius di masa-masa yang akan datang.
Begitu juga dengan jumlah fasilitas yang termasuk kurang tentunya perlu di tambah.
RUANG KELAS
|
KELAS/TINGKAT
|
1
|
1 DAN 2
|
2
|
3
|
3
|
4
|
4
|
5
|
5
|
6
|
Tabel 4. Data ruang Kelas SDN 1
Mekar jaya tahun2013
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kompetensi supervisi akademik merupakan salah satu kemampuan yang harus
dikuasai oleh seorang kepala sekolah. Namun, selama ini menunjukkan bahwa peran
kepala sekolah dalam kegiatan akademis sangat kurang karena disibukkan oleh
pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif, pertemuan-pertemuan, dan
kegiatan- kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk
mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian
hasil belajar siswa kurang mendapatkan perhatian secara serius. Oleh karena itu
seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dengan menetapkan
Standar Kompetensi Kepala Sekolah menuntut peran kepala sekolah untuk lebih
memperhatikan aspek akademis, khususnya dalam hal supervisi terhadap guru untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hasil pelaksanaan RTK yang
sudah diterapkan menunjukkan bahwa:
1. Guru belum banyak yang mengembangkan silabus dan menyusun RPP secara
mandiri. Mayoritas guru hanya menggunakan silabus dan RPP hasil copy paste
2. Dalam pembelajaran di kelas guru belum banyak menerapkan pendekatan
pembelajaran inovatif seperti CTL, PAIKEM atau kooperatif.
3. Guru juga belum banyak memanfaatkan media pembelajaran dan sumber
belajar yang bervariasi, meski di sekolah sudah tersedia fasilitas yang memadai
B. Saran-saran
Agar peran kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik untuk
kemajuan pendidikan dapat optimal maka seorang kepala sekolah dapat melakukan
beberapa hal berikut:
1. Berkoordinasi dengan staf dan guru senior lainnya untuk melaksanakan
pembagian tugas yang berkaitan dengan bidang akademik, sehingga semua guru
dapat terpantau semua kegiatan pembelajarannya melalui supervisi akademik
2. Sekolah perlu memfasilitasi guru dalam hal pengembangan profesinya
khususnya administrasi pembelajaran, pengembangan media dan model pembelajaran,
dan penilaian
3. Sekolah perlu mengusahakan penyediaan fasilitas pembelajaran dan
mendorong guru untuk memanfaatkan fasilitas yang ada secara maksimal
Sekolah perlu memfasilitasi guru untuk mengembangkan kegiatan
pengembangan profesi bagi guru khususnya penulisan karya ilmiah agar guru
termotivasi dan kreatif.
5. Memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
dengan melibatkan guru dan menggunakan standar kompetensi lulusan dan standar
isi (kurikulum nasional sebagai rujukannya.
6. Memfasilitasi pembentukan kelompok kerja guru untuk melakukan
pembaruan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, efektif, menyenangkan,
berpusat pada siswa, dan kontekstual terhadap kondisi peserta didik,
karakteristik mata pelajaran, dan lingkungannya.
7. Melakukan evaluasi kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya
secara reguler mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Bagi yang hasil evaluasi
kinerjanya diatas standar perlu diberi pujian dan diberi dukungan untuk
mengembangkan dirinya
Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya sudah sesuai dengan standar dan yang
masih dibawah standar, perlu diciptakan kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan mereka dan didukung oleh kepala sekolah dan dinas dalam pembiayaannya
Langganan:
Postingan (Atom)